Lahirlah hidayah dan semesta alam bermandikan cahaya,
Mulut Zaman ternganga tersenyum cerah semua
Taman Furqan tertawa di puncak ketinggian,
Melagukan kalam semerbak keharuman

Ahmad Syauqi, Wulidal Huda

Sejarah Peringatan Maulid
Peringatan maulid Nabi, pertama kali diadakan pada abad IV H. di zaman kekhalifahan Fathimiyah Mesir oleh Raja Abu Sa’id al-Muzaffar. Meskipun Abu Sa’id tergolong seorang raja dari kerajaan yang miskin, namun untuk memperingati maulid Nabi tersebut, beliau tidak segan-segan mengeluarkan dana sebesar 300.000 dinar.
Peringatan dengan dana yang demikian besar, tidaklah bertujuan sebagai upaya hura-hura, akan tetapi lebih ditujukan untuk mengingatkan umat Islam di saat itu agar tergugah dari ketakutan dan sikap masa bodoh. Diharapkan umat Islam saat itu memiliki kepedulian terhadap kondisi kemiskinan dan kebodohan yang melanda umat Islam saat itu, serta adanya ancaman dari musuh-musuh Islam.
Umat Islam, lewat peringatan maulid tersebut diingatkan dengan sikap kepemimpinan serta keteladanan Nabi Muhammad SAW yang demikian gigih dan tegar serta pantang menyerah menghadapi setiap musuh Islam.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka.” (Al-Fath 29)
Cara menggugah umat Islam dari sikap penakut dan masa bodoh lewat peringatan maulid Nabi tersebut, kembali dilakukan oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi (di Eropa dikenal sebagai Sultan Saladin), ketika umat Islam dihadapkan dengan Perang Salib yang berkepanjangan, yang mampu membangkitkan semangat jihad umat ketika itu. Akhirnya mereka berhasil mencapai kemenangan gemilang dan melumpuhkan usaha pengkafiran yang dilakukan orang-orang kafir saat itu.
Peringatan Maulid Nabi di Indonesia
Pada Setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal, masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut Islam Ahlussunnah wal Jama’ah menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan berbagai kegiatan. Di Solo dan Yogya, terutama di kalangan keraton Mataram, peringatan maulid dilakukan melalui acara Sekatenan. Acara sekatenan ini sudah lama diselenggarakan yaitu sejak zaman walisongo. Pada zaman walisongo itu sekatenan dimaksudkan untuk da’wah pada masyarakat Jawa agar masyarakat mau menerima Islam, meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW yang diutus Allah untuk menyampaikan ajaran Islam.
Di tempat-tempat lain, masyarakat menyambutnya dengan acara-acara pengajian umum dan pembacaan shalawat Nabi dalam bentuk diba’an, pembacaan kitab Barzanji dan lain-lain.
Bagi umat Islam Indonesia, tanggal 12 Rabi’ul Awal dipandang sangat penting, karena pada tanggal itulah Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Selain itu karena pribadi Nabi Muhammad SAW sendiri yang dijadikan Tuhan sebagai pribadi yang menarik. Segi menariknya diantaranya :
1. Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi yang terakhir, penutup sekalian Nabi dan Rasul
2. Nabi Muhammad SAW dijadikan Tuhan sebagai uswah hasanah atau teladan yang baik
3. Allah SWT dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Muhammad, dan Allah memerintahkan umat manusia ikut bershalawat untuk Nabi Muhammad.
Karena segi-segi menarik itulah, setiap tanggal 12 Rabi’ul Awal umat Islam merasa perlu melakukan berbagai kegiatan, dengan tujuan utama mencari hikmah dari sejarah kehidupan Nabi Muhammad SAWyang diwarnai oleh perjuangan menegakkan akhlaqul karimah umat manusia.
Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW
Hikmah yang dapat kita petik dari memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW sangatlah beraneka ragam. Kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup sekalian Nabi dan Rasul. Hal seperti ini menunjukkan keistimewaan Nabi Muhammad. Karena ternyata ruang lingkup ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW meliputi seluruh umat manusia di dunia ini. Berbeda dengan para Nabi dan Rasul sebelumnya yang diutus Allah hanya untuk kaum tertentu. Nabi Musa dan Nabi Isa hanya diutus untuk kaum Israil saja. Begitu pula Nabi-nabi yang lain, Nabi Syu’aib untuk kaum ‘Ad saja, Nabi Hud untuk kaum Tsamud saja dsb.
Dalam sejarah, ternyata Nabi Muhammad SAW adalah tokoh yang berhasil dan memiliki pengaruh yang cukup luas. Dalam catatan Michael H. Hart melalui bukunya yang berjudul The 100, a Rangking of the Most Influential Persons in History (Seratus Tokoh yang Berpengaruh dalam Sejarah) Nabi Muhammad SAW diletakkan dalam rangking pertama sebagai pemimpin dunia yang paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia.
Allah sendiri menegaskan dalam al-Qur’ân bahwa Nabi Muhammad SAW adalah teladan yang baik.
“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab 21).
Dengan demikian, kalau kita mencari tokoh idola, tirulah kepribadian Nabi Muhammad.
Pada saat ini, generasi muda sedang mengalami krisis idola. Pemimpin yang didambakan kepemimpinannya dapat mendatangkan kesejahteraan ternyata masih belum mampu menunjukkan keberhasilannya. Wakil-wakil rakyat yang mestinya menyuarakan keinginan rakyat yang diwakilinya ternyata sibuk mengurusi kepentingan pribadinya. Artis yang dipuja-puja ketampanan dan keayuannya, moralitasnya ternyata sangat rendah.
Dalam keadaan seperti di atas, keteladanan Nabi Muhammad SAW adalah air penyejuk bagi jiwa-jiwa yang gersang. Seluruh aspek kehidupan beliau, sejak dari kehidupan rumah tangganya hingga kegiatannya di tengah-tengah masyarakatnya, merupakan teladan yang dapat kita ambil hikmahnya. Karena itu Allah mengingatkan kita :
Katakanlah: “jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutlah aku (Nabi Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengapuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Alu Imran 31).
Ayat tersebut mengingatkan kalau kita (umat Islam) memang benar-benar mencintai Allah maka haruslah meneladani Nabi. Dengan kata lain orang yang tidak mau ber-uswah atau meneladani Nabi berarti kecintaannya pada Allah masih dipertanyakan.
Untuk dapat ber-uswah atau meneladani Nabi kita harus mengenal dan mengetahui bagaimana perjalanan hidup Nabi. Sebab mana mungkin kita dapat mencontoh dan meneladani pribadi Nabi Muhammad SAW kalau kita sendiri “buta” terhadap sejarah kehidupan beliau. Maka dari itu umat Islam harus belajar mengenali kehidupan Nabi lewat buku-buku sejarah atau kitab-kitab tarikh. Dari sanalah nantinya akan bisa dipetik keteladanan tersebut.
Selanjutnya, selain meneladani kepribadian Nabi Muhammad, kita harus selalu bershalawat kepadanya. Bershalawat ini adalah salah satu bukti kecintaan kita kepada Nabi Muhammad. Kenikmatan dalam membaca shalawat adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Karena itu menurut Nabi Muhammad, orang yang paling dekat dengan beliau pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca shalawat kepadanya; artinya, orang yang paling mencintainya. Berbahagialah orang-orang yang menandai peristiwa-peristiwa penting dalam dalam kehidupan (lahir, menikah, mendapatkan rizki, lulus ujian dan sebagainya) dengan shalawat. Lebih berbahagia lagi, orang-orang yang selalu menggetarkan shalawat di mana pun ia berada. Berbahagialah anda yang tiap malam jum’at ber-’jam’iyahan’/dibaan/berjanjen yang di dalamnya dikumandangkan shalawat. Inilah tradisi di kalangan NU (Nahdhiyyin) yang harus dilestarikan. Sebab tradisi ini adalah tradisi baik sebagai tanda kecintaan kepada Nabi Muhammad.
Ali bin Abi Thalib berkata: “setiap doa antara seorang hamba dengan Allah selalu diantarai dengan hijab (penghalang/tirai) sampai dia mengucapkan shalawat kepada Nabi SAW. Bila ia membaca shalawat, tersobeklah hijab itu dan masuklah doa.” Ali hanya menegaskan apa yang diucapkan Nabi Muhammad: “Semua doa ter-hijab, sampai ia membaca shalawat kepada Muhammad dan keluarganya.” Karena itu orang-orang suci, bahkan para Nabi terdahulu, mengantarkan doa mereka dengan shalawat.
Syekh Al-Tsa’labi menuturkan bahwa ketika Nabi Yusuf dijatuhkan ke sumur oleh saudara-saudaranya, beliau diajari malaikat Jibril bacaan doa yang di dalamnya ada shalawat untuk Nabi Muhammad.
Begitu juga Nabi Adam yang mengantarkan tobatnya dengan menyebut Nabi Muhammad SAW. Allah berkata kepada Nabi Adam: “Hai Adam, sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir dari keturunanmua. Kalau tidak ada dia, Aku tidak akan menciptakan Kamu.”
Para Nabi dan orang-orang Saleh menyertakan shalawat dalam doa-doa mereka. Perbuatan itu lahir karena kecintaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Pada gilirannya, cinta kepada Nabi Muhammad SAW memancar dengan sendirinya dari kecintaan kepada Allah Rabbul ‘Alamin.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang melakukan shalat dan tidak membaca shalawat kepadaku dan keluargaku, tidak akan diterima shalatnya.” Karena mendengar sabda ini, para sahabat seperti Jabir al-Anshari berkata, “sekiranya aku shalat dan di dalamnya aku tidak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, aku yakin shalatku tidak akan diterima.”. Karena itu juga Imam Syafi’i menggubah sya’ir :
Wahai Ahli Bait Rasulullah, kecintaan kepadamu
diwajibkan Allah dalam al-Qur’ân yang diturunkan
Cukuplah petunjuk kebesaranmu
siapa yang tidak bershalawat kepadamu
tidak diterima shalatnya
Penutup
Memperingat hari kelahiran Nabi Muhammad dapat kita lakukan dengan mencari hikmah dari kehidupan dan kepribadian beliau. Selain itu kita harus selalu berupaya meneladani akhlaq dan kepribadiannya. Kemudian kita selalu bershalawat untuknya.