Dalam hidup beragama ada hal-hal yang terlarang. Larangan Allah, dalam bahasa agama disebut haram. Sedang yang tidak haram disebut halal. Yang diharamkan oleh Allah harus kita haramkan, sedang yang dihalalkan oleh Allah harus kita halalkan.
Kita tidak boleh menyatakan bahwa sesuatu itu halal atau haram berdasarkan hawa nafsu kita, dengan maksud melakukan kebohongan. Allah memperingatkan kita
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”
(Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.
Oleh sebab itu, apa yang sudah jelas diharamkan oleh Allah, kita mesti menyatakan bahwa hal itu haram, dan kita wajib menjauhinya.
Sejalan dengan firman Allah tadi, Nabi mengingatkan kita :
“Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram, maka siksa api neraka adalah yang lebih tepat baginya”

DUA MACAM HAL HARAM
Sesuatu yang haram itu ada dua macam: Pertama, sesuatu yang haram karena zatnya. Maka kita tidak boleh memanfaatkannya (memakannya, memi-numnya atau memakainya). Minuman keras yang memabukkan, Narkoba yang menjerumuskan, adalah sesuatu yang haram karena zatnya. Karena itu jangan dikonsumsi.
Kedua, adalah sesuatu yang diharamkan karena proses memperolehnya melalui cara yang dilarang oleh Allah. Barang hasil curian, penjambretan, penipuan, perjudian, rentenir, korupsi adalah barang-barang yang diharamkan karena prosesnya. Pada barang-barang seperti ini, ada proses perolehan yang jelas-jelas merugikan orang lain, mendzalimi orang lain, atau merampas hak orang lain.
ANGGAPAN YANG SALAH
Di sebagian anggota masyarakat terdapat anggapan salah bahwa barang-barang yang diperoleh dengan cara atau proses yang haram dapat disucikan kalau orang itu rajin shalat, berhaji, mengadakan pengajian dan sebagainya. Sehingga ada boss penadah barang curian yang menyandang titel haji, boss pencopet yang rajin mengadakan pengajian. Ada koruptor yang dermawan. Mereka berujar “menjadi penadah, menjadi pencopet, menjadi koruptor adalah pekerjaan; sedang berhaji, mengadakan pengajian adalah ibadah yang tak ada hubungannya dengan kegiatan kejahatan tadi.”
Ini adalah sebuah kesalahan besar. Ibarat kita menyapu lantai, kalau sapu yang kita gunakan sudah kotor, lantai yang kita sapu jelas tidak akan dapat menjadi bersih.

BARANG HARAM JAUH DARI BERKAH
Sesuatu yang haram itu tidak akan membawa keberkahan dalam hidup kita; tidak akan membawa ketenangan bagi hidup kita. Dan Allah tidak akan menerima suatu amal perbuatan, kecuali yang bersih dan suci. Sabda Nabi:

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Suci dan tidak akan menerima kecuali yang suci/bersih. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman sebagaimana yang diperintahkan kepada para Rasul.
Kemudian Nabi menyebut firman Allah:

Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Dan firman Allah:
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.
Kemudian Rasulullah menyebut tentang seorang lelaki yang berada dalam perjalanan jauh, kusut-masai lagi berdebu seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit (dengan berdoa): “Wahai Tuhanku, Wahai Tuhanku,” padahal makanannya dari yang haram, minumannya haram, pakaiannya dari yang haram, dan dirinya disuapi dengan yang haram. (Kata Nabi) Bagaimana mungkin yang demikian itu doanya dikabulkan”.

Mencermati hadis Nabi tadi, kita dapat menyimpulkan bahwa “meninggalkan yang haram” adalah salah satu syarat diterimanya amal perbuatan. Selain itu, Nabi juga mengisyaratkan bahwa manakala kita ingin doa kita menjadi mustajab, cepat dikabulkan oleh Allah, kita harus dapat meninggalkan hal-hal yang haram.

Dalam kesempatan yang lain Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa mengharamkan yang haram atau meninggalkan yang haram itu merupakan salah satu syarat minimal bagi seseorang yang ingin masuk syurga. Sabda Nabi:

Dari Jabir r.a., bahwa ada seorang lelaki yang bertanya kepada Rasulullah SAW dengan berkata: Bagaimana pendapatmu jika saya menjalankan shalat wajib, berpuasa Ramadhan, saya menghalalkan yang halal, saya mengharamkan yang haram dan saya tidak menambahinya dengan sesuatu yang lain, apakah saya masuk syurga? Jawab Nabi: ya!.

Karena itu kita mesti banyak-banyak berdoa :
“Ya Allah, tampakkanlah pada kami bahwa yang benar itu tampak benar, berilah kami kemampuan untuk mengikutinya; tampakkanlah pada kami bahwa yang batil itu tampak batil, berilah kami kemampuan untuk menjauhinya;
Mudah-mudahan Allah menyelamatkan kita dari segala perbuatan yang haram, menjauhkan kita dari rizki yang haram, memudahkan bagi kita rizki yang halal, yang berkah dan yang banyak

penulis adalah seorang pelayan di madrasah aliyah bahauddin ngelom taman sidoarjo jawa timur, alamat: nuh311064@yahoo.com